Peneliti Aceh dari FKH USK Kembangkan Limbah Kulit Buah jadi Pengawet Pangan Alami
Limbah kulit pepaya dan nanas dikembangkan peneliti Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Syiah Kuala (USK) menjadi bahan bernilai tambah untuk pengawetan pangan.
Inovasi tersebut dikembangkan Prof. Dr. drh. Nurliana, M.Si., atau akrab disapa Nuna, melalui teknologi fermentasi untuk menghasilkan Supernatan Bebas Sel (SBS) Ragi dan Bakteri Asam Laktat (RaBAL) Cair sebagai kandidat biopreservatif pangan.
SBS RaBAL memanfaatkan metabolit hasil fermentasi ragi dan bakteri asam laktat dengan bahan baku kulit pepaya, kulit nanas dan molase.
Metabolit tersebut kemudian dipisahkan dari biomassa mikroorganisme melalui sentrifugasi dan filtrasi.
“Pemanfaatan kulit pepaya dan nanas ini menjadi salah satu upaya mengubah limbah menjadi bahan bernilai tambah,” kata Prof Nuna dalam keterangannya kepada Serambinews.com, Rabu (30/9/2026).
“Melalui proses fermentasi, kita menghasilkan metabolit yang berpotensi dimanfaatkan sebagai biopreservatif pangan,” tambahnya.
Hasil pengujian awal menunjukkan SBS RaBAL memiliki aktivitas antibakteri terhadap Escherichia coli, Staphylococcus aureus dan Vibrio parahaemolyticus.
Karakterisasi awal juga menemukan kandungan fitokimia berupa flavonoid, alkaloid dan tanin.
Inovasi tersebut kemudian diuji pada ‘Sie Balu’, daging kering khas Aceh. Hasil awal menunjukkan jumlah S. aureus menurun seiring peningkatan konsentrasi SBS.
Pada perlakuan tanpa SBS, jumlah bakteri sekitar 6,5 × 103 CFU/gr. Angka tersebut turun menjadi 2,3 × 103 CFU/gr pada konsentrasi SBS 3 persen, sekitar 4,1 × 102 CFU/gr pada konsentrasi 6 persen, dan 3,8 × 102 CFU/gr pada konsentrasi 9 persen.
“Hasil awal pada Sie Balu menunjukkan adanya penurunan jumlah bakteri seiring peningkatan konsentrasi SBS.”
“Konsentrasi 6 sampai 9 persen menunjukkan hasil yang cukup baik dalam pengujian awal,” sebut Prof Nuna.
Sumber: Serambi Indonesia

