Tim USK Lakukan Pendampingan Fermentasi Limbah Pertanian Di Gampong Krueng Kalee
Tim Universitas Syiah Kuala (USK) melaksanakan pengabdian masyarakat di Gampong Krueng, Kalee Kecamatan Darussalam, Aceh Besar dengan mengikut sertakan beberapa mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-tematik) USK yang berasal dari Program Studi Pendidikan Dokter Hewan FKH-USK sebagai pendamping kegiatan sambil belajar dilapangan, (24/8/2024).
Kegiatan tersebut melibatkan kelompok usaha Tani Makmur sebagai mitra dan tim dosen yang terlibat yaitu Dr. drh. Masda Admi, M.Si sebagai ketua, drh. Azhari, M.Si dan Dr. Hendri Syah, S.Tp., M.Si sebagai anggota, masing-masing tim dosen ini memiliki kepakaran tentang Mikrobiologi, Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Teknologi Pertanian.
Kepada Jeumpa Media, Masda Admi mengatakan bahwa sebagian besar mata pencaharian utama penduduk yaitu 85% sebagai petani sawah dan petani kebun serta peternak, sehingga pengabdian yang dilakukan meliputi penyuluhan tentang pemanfaatan limbah pertanian dan perkebunan,
“Kita adakan pelatihan dan praktek langsung cara pembuatan fermentasi limbah pertanian dan Perkebunan yang ada di wilayah tersebut” ujarnya.
Pada penyuluhan teknologi pemanfaatan limbah, Azhari sebagai narasumber menyampaikan bahwa fermentasi selama ini telah banyak dilakukan oleh Masyarakat peternak, namun pada umumnya masih memanfaatkan fermenter yang sudah tersedia di pasar,
“Kali ini kita mengajak masyarakat untuk memanfaatkan limbah yang ada disekitar lingkungan mereka sebagai bahan baku yang akan dijadikan untuk pakan ternak dengan menggunakan fermenter yang diracik sendiri oleh Masyarakat. Biayanya murah dan mudah didapatkan.
bahan baku fermenter yaitu pemanfaatan isi rumen sapi dan kambing yang diambil dari rumah potong hewan yang ada di Aceh Besar” terangnya.
Lanjut ketua pengabdian, Masda Admi, bahwa pemanfaatan isi rumen sapi dan kambing sebagai fermenter dalam fermentasi dikarenakan rumen tersebut banyak mengandung bakteri selulolitik sebagai penghasil enzim selulase untuk menghidrolisis selulosa kompleks dari pakan hijauan menjadi glukosa,
“sehingga dapat meningkatkan nilai nutrisi dan ketersediaan nutrisi bagi ternak dalam bentuk yang lebih mudah dicerna bagi sistem pencernaan ternak. Pemberian pakan fermentasi, selain memiliki nutrisi tinggi juga dapat dijadikan sebagai stok bahan pakan untuk ternak ketika terjadi musim kemarau yang susah mendapatkan hijauan dan musim tanam yang tidak boleh menggembalakan sapi di lahan persawahan.” tambah Masda.
Kegiatan ini terus berlangsung untuk mengedukasi masyarakat terhadap jenis-jenis limbah pertanian dan perkebunan yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak serta risiko yang perlu dihindari.
Selanjutnya melatih masyarakat dalam penerapan teknologi fermentasi limbah jerami padi, daun singkong menggunakan starter mikroba isi rumen kambing dan sapi yang teradaptasi racun sianida, serta melatih masyarakat memanfaatkan mikroba, magot dan cacing tanah untuk penerapan teknologi fermentasi limbah feses ternak sapi menjadi kompos.
Artikel ini telah tayang di Jeumpa Media dengan judul “Tim USK Lakukan Pendampingan Fermentasi Limbah Pertanian di Gp. Krueng Kalee“. Berita selengkapnya dapat dibaca melalui tautan berikut: https://jeumpa.com/tim-usk-lakukan-pendampingan-fermentasi-limbah-pertanian-di-gp-krueng-kalee/.

